Monday, 15 February 2010

MUTIARA HIKMAH MALAM

Dimalam-malam yang hening, sungguh indah bila kita gunakan untuk bertafakur, bermuhasabah, memohon magfiroh dari Allah SWT.

Abahe, Guru ngaji kami, Mudir'am PP. Az-Zuhri Ketileng Semarang, senantiasa mengingatkan pada kita melalui pesan singkat untuk merenungkan segala sesuatu untuk memperoleh ridhlo Allah SWT.

Berikut adalah pesan-pesan singkat Abah, semoga bermanfaat bagi kita.

  1.  " Upayakan Setiap hari bertambah satu. Kenapa kau lupa bahwa sebulan tambah 30, setahun tambah 365 ?. Ayo sing nejo qiyamul lail, tahajud, Istigfar bareng-bareng "
  2. " Aku bisa begini karena kasih sayang Ibuku. Aku malu apa yang telah kuberikan pada Ibuku sampai saat ini ? ", Ayo sing kerso qiyamul lail, tahajud bareng-bareng Abahe.
  3. " Alangkah Indahnya terdengar alunan-alunan nada Maulid tatkala ku kehilangan segala-galanya di kehidupan ini. Sing kerso qiyamul lail, tahajud. Istigfar bareng-bareng.

Demikian antara lain, bahan renungan kita dikala kita " ngurip-urip wengi " qiyamul lail. Semoga bermanfaat.

Sunday, 26 July 2009

Mau Selamat ? : Gunakan Akal !

Assalamu’alaikum, sobat semua….
Apa kabar ? semoga Allah Ta’ala senantiasa meridhoi kita semua.

Sudah lebih satu bulan saya tidak meng up date blog ini…

Ternyata memang betul, menjaga Istiqomah itu sungguh-sungguh sangat berat... untuk sekedar istiqomah menuliskan atau mentraskipkan pengajian-pengajian yang saya ikutipun tidak bisa dilaksanakan.

Mungkin saya bisa menyampaikan beberapa alasan yang secara logika benar, tetapi alasan apapun yang saya kemukakan pasti itu hanya pembenaran-pembenaran subyektif saya. Karena pada hakekatnya, kenyataannya saya tidak bisa menjaga istiqomah itu....

Alhamdulillah...

Allahu Akbar, Hanyalah Allah yang Maha Kuasa.....yang memberikan hidayah, memberikan kesempatan, memberikan dorongan untuk sekedar menuliskan, mendokumentasikan apa-apa yang saya peroleh dari pengajian-pengajian yang saya ikuti. Semoga Allah SWT. Senantiasa membimbing kami. Amin.

Sobat,...

Seperti biasanya, berikut ini adalah tulisan mengenai hal-hal yang saya tangkap dari Pengajian Abahe, Pengajian rutin malem kemisan ( Rabu malam ).

Abah senantiasa mengajak menjaga diri kita dengan Taqwallah.

Pertama : ” Ayo kita njogo kelayan taqwallah, nglaksana ake dawuh-dawuhe Allah, ninggalake larangan-larangan Allah ”.

Kedua : kita diajak untuk senatiasa meningkatkan syukur kita kepada Allah, Meski bersyukur itu gampang, tetapi jarang orang yang bisa bersyukur. Kenapa gampang, sebab Barang siapa yang bisa bersyukur, maka oleh Allah akan ditambahi nikmatnya. Berarti ini perbuatan yang mestinya gampang. ( terus terang ini saya juga belum faham maksudnya )

Ketiga : ayo tingkatakan kesabaran kita. Sabar, inilah yang sangat berat. Yaitu sabar didalam melaksanakan perintah-perintah Allah, sabar menghadapi cobaan, ujian, musibah bencana ataupun balak. Tapi martabatnya lebih indah sebab orang yang sabar itu bersama-sama dengan orang-orang yang sabar pula, Innalloha ma’ashobirin.

Itulah beberapa hal yang harus kita gunakan sebagai bekal didalam menghadapi kehidupan, menghadapi globalisasi, menghadapi madhoron / bahaya/ kolo bendu. Maka kita harus lebih berhati-hati.

Lebih-lebih di kehidupan sekarang ini. Banyak upaya-upaya yang tidak kita sadari bagaimana kita ini semakin dijauhkan dari nilai-nilai keagamaan, keislaman kita.

Coba perhatikan dan renungkan, bagaimana seseorang dibuat tidak mencintai sesuatu yang seharusnya ia cintai, bagaimana dia dijauhkan dari rasa kecintaannya terhadap sesuatu ?

Ternyata rumusnya : perbanyaklah hal-hal yang gampang disenangi, sehingga orang dengan gampang meninggalkannya. Dan itulah yang terjadi saat ini.

Dulu semua orang tahu kalau tanggal 5 Oktober itu hari ABRI, 10 nopember hari pahlawan, 1 Juli hari kelahiran Pancasila, dll. Sekarang ? wis ora ono sing kelingan, jarang yang ingat lagi. Karena orang-orang membuat hal-hal baru yang nampaknya lebih mendunia, Hari HAM, Hari Bumi, Hari anti merokok, dan lain-lain peringatan lainnya, sehingga yang seharusnya benar-benar menjadi momentum sejarah sudah banyak dilupakan.

Dulu amat sakralnya orang mencintai, rasa kepemilikan terhadap masjid, Sekarang ? masjid menjadi ajang untuk rebutan takmir, rebutan menjadi pengurus. Tapi yang benar-benar memiliki masjid sudah tidak ada.

Dulu betapa indahnya orang sekolah. Pulang sekolah makan siang dirumah, kemudian sholat, istirahat sejenak, dilanjutkan sekolah arab atau mengaji. Sekarang ? anak-anak diwajibkan mengikuti tambahan pelajaran disekolah, kursus matematika, bahasa inggris, pramuka, les menghadapi ujian, dll. Bagaimana anak-anak memiliki masa bermain ?
Sehingga jadilah anak-anak kita tidak memiliki tata krama, subo sito, akhlaq yang bagus.

Di dunia politik, Pemeluk Islam adalah mayoritas di Indonesia, mana yang memilih partai Islam ? PKB, PKNU, PKS, atau yang lain ? apa ini tidak perlu mukhasabah, ikhtishaf. Bagaimana kita bangga dengan kepemilikan diri, dirumah sendiri, yang memiliki hak veto. tidak pernah lari dari tanggung jawab.

Ayo kita dalam berislam dan beribadah, itu yang kafah, menyeluruh, komprehensif. Maka untuk itu mari kita senantiasa meningkatkan semangat kita mencari ilmu agama, mengaji.

Kata Abahe.... Sekarang banyak ilmu semakin hilang.

Di Az-Zuhri tidak ada ilmu yang disimpan, semua ilmu disampaikan. Fiqih, Ulumul Qur’an.......silat.....10 jurus untuk pria, 10 jurus wanita, jurus asma’, Ilmu memasak, jahit menjahit.... diberika semua, tidak ada yang disimpan. Sebab” kalau ilmu itu saya simpan, siapa yang meneruskan ?”, kata Abahe.

Itulah sebabnya kita perlu mengingat sudah berilmukah kita ? sudah pintarkah kita ?

Golongan manusia berdasar kepintarannya di golongkan menjadi 4 tipe, yaitu :

1. Rojulun yadri wa yadri anahu yadri fahuwa alimun. fa tabi’uhu. Manusia itu pintar dan dia menyadari kepintarannya, maka orang ini orang pintar. Maka ikutilah dia.

2. Rojulun yadri wa layadri anahu yadri fa huwa ghofilun. Fannabi'uhu. Orang ini pintar tapi dia tidak menyadari dan tidak mengamalkan ilumunya, orang ini seperti orang sedang tidur, maka bangunkanlah.

3. Rojulun layadri wa yadri anahu layadri fahuwa mustaghshikin. Orang ini bodoh, dan dia menyadari bahwa dirinya adalah bodoh, maka orang ini berilah petunjuk.

4. Rojulun layadri wa layadri anahu layadri fahuwa dholimun. Jahilun murokabun. Orang ini bodoh, tapi tidak tahu kebodohonnya bahwa dirinya adalah bodoh. Orang ini adalah orang jahil. Bodoh atau dholim atau jahilun murokabun. Tinggalkan dia.

Kita termasuk golongan yang mana ?

Ayo kita selalu mencari ilmu, mentransfer ilmu, mengajarkan jalisan, dengan anak-anak kita seperti yang dilakukan orang tua kita, kakek-nenek  kita dahulu.

Ayo kita semua baik yang pintar-pintar maupun yang bodoh-bodoh, ayo selalu gunakan akal, agar selamat dunia dan akherat.

Sebab tentang Akal, Al Aql ini Sahabat Ka'ab dan Abu Hurairah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW.

Yaa.. Rasulullah, Man a’lamunnas ? Siapa orang yang paling pandai ? dijawab oleh Rasulullah  Al aql, orang yang menggunakan akalnya.

Man a’budunnas ? Siapa orang yang paling hebat ibadahnya ? dijawab .... Al aql

Man afdholunnas ? Siapa yang paling utama-utamanya manusia ? dijawab .... Al aql

A’latul mu’min, al ’aql . Alat seorang mukmin adalah Al aqil.

Kita sudah diperintah oleh Allah Ta'ala untuk senantiasa Iqro’...iqro’...iqro’ . tapi kenyataannya kita masih saja jumud.

Oleh karena itu menghadapi persoalan hidup ini, ayo bangkit jangan menangis dengan kekalahan, jangan bersedih dengan kehilangan, senyumlah dengan pengalaman-pengalaman kenapa kita kalah, kenapa kita bersedih, maka  kau akan menang, ketenangan kebahagiaan akan kau peroleh. Insyaallah.

Semoga Allah meridhoi langkah kita. Amin

Wasalamu'alaikum

Sunday, 7 June 2009

Cari Guru Ngaji, Lakukan Sekarang !

Bismilahirohmannirohim,

Alhamdu lillahi robbil 'alamin

Allohuma Sholi ‘ala sayyidina Muhammad…

Sobatku semua.....

Semoga kita senantiasa bisa mensyukuri atas kemuliaan yang kita terima dari Allah, dengan menjaga dan meningkatkan taqwa kita kepada allah sehingga keluarga kita sakinah, mawadah, dan  rohmah. Dan Semoga rejeki kita dilimpah-limpahkan oleh Allah SWT, untuk kita gunakan sebagai bekal ibadah, dapat digunakan untuk ziarah ke mekah medinah,  dan semoga kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Amin.

Sobat.....

Dalam suatu pengajian Jum’at siang setelah sholat Jum’at di Ponpes Az-Zuhri Ketileng Semarang, Abahe menyampaikan tentang beberapa Hadis dan mengupasnya, sesuai konteks yang terjadi saat ini.

Seperti Biasanya Abahe senantiasa mengkritisi perkembangan kehidupan sehari-hari secara jeli.

Memandang kondisi yang terjadi dewasa ini,  Yang pertama, Abahe,  menilai alangkah apologisnya kita sekarang ini. Masyarakat sekarang ini tidak hanya sekedar apriori, tapi sudah pada tahap apologis, masyarakat tidak lagi peduli apa-apa yang terjadi. Masyarakat sudah terlalu lelah dan capek memikirkan permasalah-permasalah yang mereka hadapi. 

Coba kita lihat di pemberitaan-pemberitaan di mass media, koran, televisi, radio, siapa yang harus kita percaya, yang benar itu siapa ? Pemerintah-kah , Para Wakil Rakyat-kah, ataukah ” Rakyat ” nya ? ( yang dimasud rakyat disini sangat sumir, karena setiap orang selalu mengatasnamakan demi rakyat, padahal yang disampaikan itu hanya suara pribadi atau paling banter suara sekelompok orang saja ).

Sebagian besar Masyarakat kita sudah tidak peduli. 

Selain itu coba kita lihat, sepertinya apabila kita menghadapi masalah, ramainya itu paling lama hanya dalam hitungan minggu. Perhatikan kemarin kita mendengar gencarnya berita tentang Pak Antasari Ketua KPK yang tersandung kasus pembunuhan, sekarang sudah tidak terdengar beritanya lagi. Kemarin dulu tentang wabah flu burung, wabah antrak, dan lain-lain wabah penyakit, dulu begitu gencar di beritakan. Sekarang sudah tidak ada yang peduli lagi. Kenapa demikian ?

Yang kedua, masyarakat kita ini tidak lagi sekedar egois, tapi sudah meningkat pada egosentris yang sifatnya duniawiyah.

Diilustrasikan oleh Abah :

Misal suatu saat seorang suami baru saja pulang dari kerjanya, kemudian dia langsung mandi, ganti baju, memakai minyak wangi, bersisir, dan kemudian dia pergi keluar rumah lagi.  

Kira-kira apa yang dipikir oleh si istri ? 

Wah Suamiku pasti akan menemui wanita lain ! Atau dalam pikirannya koq tumben suamiku ini !!.

Tidak berhenti disitu, kemudian, setelah si suami pergi, kira-kira apa yang akan dilakukan si Istri ?

Bisa jadi dia kan menggeledah pakain suami yang dipakai tadi, kalo-kalo ada petunjuk perselingkuhan !

Kondisi semacam itu ternyata juga dialami oleh Rasulullah SAW.

Suatu ketika Rasulullah SAW, Pulang ke rumah salah satu Istri Beliau, yaitu Aisah RA. Tanpa berbasa-basi beliu langsung berganti pakain yang bagus dan pergi lagi. Melihat hal itu Aisah Curiga dan sedikit cemburu, jangan-jangan Beliau Rasulullah akan beralih ke istri yang lain. Oleh karenanya Beliau Aisah mengikuti kemana perginya Rasulullah SAW.

Ternyata beliau kemasjid dan melakukan sholat. Aisah menunggu cukup lama dan melihat bagaimana lamanya Rasulullah SAW bersujud, sampai dikira mati.

Sesampai di rumah Rasulullah SAW, bertanya kepada Aisah, kenapa kamu curiga ?

Dijawab oleh Aisah : ” Alangkah sangat dekatnya Engkau dengan agamamu, sedangkan aku sangat dekat dengan duniawi ”

Kemudian dijelaskan oleh Rasulullah :

Tadi tatkal aku tiba dan berganti baju, Jibril datang dan memberi tahuku ” Wahai Muhamad SAW, ini adalah malam lailatul nisfu sa’ban. Allah memerdekaan manusia-manusia dari neraka sebanyak tak terhitung jumlahnya, sehingga alangkah baiknya bila Engkau Muhammad SAW. mendoakan mereka. Oleh karena itu do’a yang kaudengar tadi lakukanlah dan ajarkanlah. Wahai Aisyah karena malam ini lalitul syakban, saya mohon ijin untuk sholat ( Al Hadist ).

Dari ilustrasi ini nampak bahwa Rasulullah SAW, itu sangat sayang kepada istri dan putranya, tapi juga sangat keras dalam hal Agama.

Apa yang kita ambil dari ilustrasi itu ?, ternyata kita ini selalu berpikir dan bertindak berdasar kepentingan sendiri, selalu memandang dari sudut pandang kepentingan diri sendiri.

Itulah yang disebut egosentris. Dan ini cukup memprihatinkan di kehidupan kita sehari-hari. 

Mensikapi dua fenomena itu, apa yang harus dilakukan ?

Yang paling mudah adalah carilah Guru untuk mengaji Agama. Guru yang bisa kita percaya dan bisa menyelamatkan kita di dunia dan akherat. Guru yang sudah tidak tergoda dengan gemebyarnya dunia. Lakukan sekarang sebelum terlambat.

Dalam Taklim muta’alim, diajarkan bahwa dalam mencari Guru ini kita diberi waktu 3 bulan. Dan apabila telah menemukan yang cocok dan dapat memberi ketentraman di dalam hatimu, maka ikuti dan lakukan apa-apa yang diperintahkan oleh Beliau. Kita harus yakin bahwa Beliau tidak akan menjerumuskan kita ke lobang api neraka, tetapi akan membimbing kita memasuki Surga. Amin.

Akhirnya saya mensitir Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah :
 ” Barang siapa yang mengajak-ajak kejalan hidayah, maka bagi dirinya mendapatkan pahala sama dengan orang-orang yang turut mengikuti ajakan-ajakan kebaikan tadi. Dan dari pahala orang-orang yang mengikuti ajakan kebaikan tersebut tidak terkurangi sedikitpun. Sebaliknya barang siapa yang mengajak kejalan yang salah maka bagi dirinya mendapatkan dosa dari mengajaknya dan juga menanggung dosa orang-orang yang mau diajak berbuat dosa dimaksud, dan dosannya orang-orang yang hanya mengikuti tidak dikurangi sedikitpun ”
Mari kita saling mengingatkan dalam hal kebajikan. 

Terima kasih, semoga Allah meridhloi kita. Amin.

Wassalamu'alikum Wr.wb.


Said.